Agar Tidak Ditekan oleh Tekanan : Praktik Fisika



Belajar sains adalah mengajak siswa untuk mengamati, menikmati dan mensyukuri lingkungan sekitar. Tema bermain kali ini di kelas 2 (VIII MTs) adalah tekanan pada benda cair. Sebetulnya saya berhusnudzan bahwa anak-anak secara konsep telah mendapatkannya ketika duduk di bangku SD karena sebetulnya materi ini adalah cukup mudah atau prang mengatakan ‘sepele’.

Namun tidak ada salahnya saya mencoba pre-test untuk memanggil memori siswa tentang pelajaran yang telah mereka dapatkan di SD dan saya lihat sering keluar di ujian semester atau bahkan ujian akhir. Saya menyiapkan kertas A4 yang telah saya bagi dua dan spidol warna-warni. Setiap siswa mendapat satu lembar kertas dan sebuah spidol yang warnanya berbeda dengan siswa lain, hanya beberapa saja yang sama, hal ini saya maksudkan tanpa menuliskan identitas siswa, siswa bisa mengenal hasil kerjanya sendiri tanpa diketahui oleh orang lain, jadi seandainya jawaban yang mereka berikan kurang tepat, akan menjadi rahasia sendiri.
Tugasnya mudah : silahkan berimajinasi ataupun mengingat pelajaran di SD tentang sebuah botol yang dilubangi sebanyak tiga lubang yang berbeda ketinggian, kemudian diisi air. Gambarkan pancaran air tersebut. Mudah bukan? (Inilah husnudzan saya).

Satu per satu siswa mengumpulkan gambar hasil buatannya masing-masing, sudah sebagian besar sesuai dengan yang diharapkan, namun beberapa siswa masih membuat gambar yang ‘aneh’ (tanpa kita harus memvonis salah)









Dari gambar yang dibuat siswa, saya cukup heran, “Masa’ sih ‘hanya’ seperti ini siswa tidak bisa?” pikir saya. Saya tanyakan kepada siswa apakah dulu di SD materi tersebut dipraktikkan? Ternyata hanya ada 2 siswa yang mendapat materi tersebut dengan praktik.

“Semuanya lepas kaos kaki dan kita ke halaman!” seruku pada anak-anak. Anak-anak pun langsung berteriak kegirangan sambil keluar kelas.



Di halaman, anak-anak berbaris dan membuat empat kelompok; mereka sendiri yang menentukan kelompoknya. Setiap kelompok mendapat botol air mineral bekas serta sebuah solder untuk membuat empat lubang pada dinding botol sesuai petunjuk. Kemudian botol-botol tersebut diisi air hingga penuh, dan … anak-anak pun menyaksikan sendiri bagaimana air terpancar berdasar ketinggian.





Tak hanya itu, seorang anak justru bermain dengan selang untuk menyiram halaman sambil berteriak, “Ustadz, kalau selang ini saya pencet kok jadi jauh airnya. Ada hubungannya dengan tekanan nggak?” Hmmm … Tak cukup di sini anak-anak bermain air. Tak sengaja ketika menyemprotkan air melalui selang , timbul pelangi … . “Wooii! Ada pelangi, bisa kita tangkap nggak ya?” Pokoknya rame dach anak-anak … .
Akhirnya para siswa menemukan jawaban sendiri dari pertanyaan yang saya ajukan. Apakah jawaban seperti gambar no-2 dan no-3 salah? Ternyata tidak … . Justru anak-anak saya minta berpikir, bagaimana caranya agar pancaran air seperti gambar no-2 dan no-3? Jawaban beragam pun muncul dari mereka.

Kadangkala kita menganggap sepele sebuah materi untuk dipraktikkan karena menurut kita itu adalah hal yang mudah, padahal imajinasi anak sangat mungkin berbeda. Terlebih untuk kegiatan praktik sering terpikir cukup ribet dan memakan waktu lebih yang akan mempengaruhi sampai tidaknya guru pada target yahg telah ditetapkan oleh kurikulum. Sehingga kebanyakan guru memberikan langsung memberikan materi tanpa adanya pengalaman pada siswa. Padahal untuk contoh praktik di atas cukup simple, tak perlu mahal, bahkan botol air mineral bisa saya dapatkan di kantin, solder ada di lab atau bisa kita ganti dengan alat pelubang lainnya. Yang pasti, anak-anak tidak ada yang mengantuk atau bosan karena berbagai jenis kecerdasan anak yang beragam dapat terapresiasi.

Bagikan artikel melalui :

,

KOMENTAR

1 comments:

  1. Belajar dengan mengerahkan semua Indra untuk membangun konsep sendiri tentu akan memperoleh capaiannya yg Levi besar, apalg sampai menjelaskannya kembali.
    Tp hanya guru yg kreatiflah yg mau melakukannya seperti anda..
    Titip ank km di KIIS kls 7A.
    D.arkan

    BalasHapus